Merdeka.com - Kedatangan pengungsi Rohingya setelah empat bulan terapung-apung di lautan membuat Tentara Nasional Indonesia (TNI) memperketat pengawasan. Seperti yang terjadi Pos Pulau Sekatung, Natuna, Kepulauan Riau ini misalnya, mereka bersiaga penuh untuk mengantisipasi kedatangan manusia perahu dari negara-negara di Asia Tenggara.
"Memang sampai saat ini belum ada laporan ataupun temuan kami ada perahu pengungsi yang sandar di perairan Natuna khususnya di Pulau Sekatung dan Pulau Laut," ujar Komandan Pos Sekatung Serka Maritim Danang Setiawan kepada Antara saat ditemui di Pulau Sekatung, Kamis (28/5), seperti dilansir Antara.
Siaga penuh dilakukan karena pengungsi dari Vietnam di penghujung perang saudara pada 1970-an pernah menyerbu Pulau Laut. Setelah sempat ditampung sementara, para manusia perahu itu kemudian dipindahkan ke Pulau Galang, Batam. Pos Pengamanan Perbatasan itu di Pulau Sekatung telah berdiri sejak 2006 di pulau dengan luas 4 hektare ini.
"Kini saat dunia sedang disibukkan dengan kisah pengungsi Rohingya dari Myanmar, kami di sini tidak pernah mendapatkan laporan adanya kapal pengungsi yang datang, padahal kalau dilihat peta kawasan yang berhampiran Laut China Selatan ini merupakan rute," lanjut Danang.
Dia mengatakan, sudah menjadi tugasnya bersama puluhan rekannya yang berasal dari Yonif 8 Marinir Pangkalan Berandan, Medan dan Yonif 134 Tuah Sakti, Ranai, Natuna, untuk mengamankan kawasan perbatasan yang merupakan titik 0 kilometer utara NKRI. Sebelumnya, pulau ini dihuni masyarakat lokal yang biaya hidupnya disubsidi pemerintah daerah Natuna, namun pulau ini ditinggalkan masyarakat karena tidak ada air bersih.
Bahkan, lanjut dia, beberapa nelayan asing asal Tiongkok sempat singgah di pulau tersebut namun mereka dapat diusir agar tidak ada klaim bagian wilayah mereka. "Sekarang kondisinya telah kondusif, nelayan asing pun tidak lagi lalu lalang menangkap ikan di sini karena ada kebijakan tegas dari pemerintah," ungkap Danang.
Itu sebabnya, lanjut dia, Pulau Sekatung dijadikan Pos Pengamanan Perbatasan dengan memanfaatkan rumah warga dan pemerintah pusat pun membangun beberapa fasilitas baik jaringan internet, listrik maupun pemecah ombak agar pulau yang berkontur bukit itu tidak longsor.
"Kami menempati rumah masyarakat yang telah dibangun pemerintah daerah. Kami di sini terdiri dari 10 marinir dan 10 personel angkatan darat. Tugas kami lah mengamankan dan mengawasi daerah terdepan ini," katanya.
Danang mengaku, penempatan mereka di pulau tersebut tiap periode selama 9 bulan dan tidak boleh keluar dari lokasi kecuali melaksanakan salat Jumat di Pulau Laut yang jarak tempuhnya sekitar setengah jam pakai pompong (kapal kayu bermotor). [tyo]

0 Response to "Inilah Kisah Mengharukan TNI jaga pulau terluar dari kedatangan manusia perahu"
Post a Comment